Absen menjadi wartawan bisa aku lakukan walau tidak tahu sampai kapan. Tetapi absen menulis serasa sangat sulit karena menulis bagiku bagai mendengar alunan musik yang mengalir ke dalam jiwa...sampai jauh... Saat ini aku pikir diriku sebuah fragmen bergetar tanpa irama dalam ruang kehidupan. Kini ku tahu bahwa akulah ruang dan semua kehidupan adalah pragmen-fragmen bernyanyi yang bergerak dalam diriku...
Sabtu, 28 Juli 2012
Catatan Chudori: Ada batu di ginjalku
Catatan Chudori: Ada batu di ginjalku: Rabu sore, tepatnya tanggal 11 Juli 2012, saat sedang berkunjung ke rumah orang tua saya di Desa Sungaibinjai, Kabupaten Bungo, tiba-tiba sa...
Senin, 23 Juli 2012
Ada batu di ginjalku
Rabu sore, tepatnya tanggal 11 Juli 2012, saat sedang berkunjung ke rumah orang tua saya di Desa Sungaibinjai, Kabupaten Bungo, tiba-tiba saya merasakan sakit perut yang amat luar biasa. Pinggang saya terasa panas dan muntah-muntah seakan tak pernah mau berhenti untuk menguras seluruh isi perut saya. Peristiwa ini dipicu setelah saya menyantap habis satu porsi martabak india pakai kuah kari daging sapi. Sebetulnya tidak terlalu pedas, kecuali ada sedikit irisan cabe rawit, bawang merah dan sedikit cuka makan dicampur kecap manis sebagai sausnya. Sehari sebelumnya, saya memang makan gulai jengkol dan membuat pinggang saya terasa hangat dan sengal-sengal.
Akibat rasa sakit yang luar biasa itu, akhirnya saya digotong ke tempat praktek dokter Topan di Pasar Muarabungo. Betapa terkejutnya saya saat hasil USG dokter spesialis penyakit dalam tersebut menyebutkan bahwa ada batu di ginjal saya sebesar biji kacang tanah. Kata dokter itu, posisi batu sudah berada di kantong kemih, dan itulah sebabnya kenapa saya merasakan sakit yang luar biasa akibat makan jengkol dan saus martabak india tadi yang mengandung cuka dan cabe rawit. Inilah pemicu sehingga saya akhirnya dirawat selama tiga malam di RSUD Hanafie Muarabungo.
Keesokkan harinya saya dironsen dan ternyata memang ada bulatan putih sebesar biji kacang tanah di sekitar kantong keming bagian bawah, sepertinya tidak jauh dari saluran kemih. Betapa ngerinya saya dan sangat tidak bisa terlukiskan betapa sakitnya tatkala nanti batu itu berangsur ke luar melalui saluran kemih saya yang diamaternya sangat tidak sebanding dengan ukuran batu keparat tersebut. Saya benar-benar merasa terpukul oleh penyakit ini, apalagi saat merasakan saya semakin sulit kencing dan selalu mengandung darah dalam cairan kemih saya. Oh...Tuhan, saya merasa hidup ini sudah tidak berapa lama lagi akan berakhir saat saya membayangkan betapa menderitanya seseorang yang mengalami kerusakan ginjal alias gagal ginjal.
Barulah setelah istri dan anak-anak saya jauh-jauh datang dari Kota Jambi, perasaan saya sedikit terhibur. Melihat wajah orang-orang yang saya cintai itu membuat saya mulai kuat lagi untuk terus bertahan dan senantiasa berpura-pura tidak sakit dihadapan mereka. Sesunggunya saat saya mau menginjakkan kaki ke lantai untuk menuju kamar mandi saja rasanya sudah tidak kuat lagi tubuh ini untuk berdiri, tetapi saya paksakan terus dan selalu berusaha untuk tersenyum di hadapan wajah-wajah yang penuh dengan kecemasan itu. Tiga hari dirawat seadanya, saya tidak merasakan perubahan yang berarti kecuali rasa sakit di perut dan pinggang mulai berkurang. Sementara batu tersebut masih bersarang dalam perut saya.
Akhirnya saya dan keluarga memutuskan untuk kembali ke Kota Jambi. Selama enam jam pernjalanan darat, sungguh bukan sesuatu yang amat menyenangkan bagi seorang penderita batu ginjal seperti saya.Tetapi saya berusaha untuk senantiasa terlihat tegar dan kuat di mata keluarga. Laki-laki tidak boleh cengeng, itulah yang selalu saya ajarkan kepada anak-anak saya. Di rumah, keceriaan selalu saya upayakan dengan cara mengajak anak-anak bercanda seperti biasa. Tetapi istri saya tahu bahwa sesungguhnya jiwa dan bathin saya menderita. Kami tahu bahwa ini adalah penyakit serius dan butuh biaya yang tidak sedikit untuk mengobatinya. Tiga hari kemudian, tepatnya malam pertama bulan suci Ramadhan 1433 Hijriah, saya dan istri memberanikan diri ke tempat praktek spesialis urologi di Mayang Medical Center (MMC), satu-satunya ahli urologi di Jambi. Sejujurnya, kami tidak mempunyai cukup uang, apalagi saya hanya bekerja di sebuah perusahaan kecil yang saat ini belum memiliki banyak proyek. Ternyata benar dugaan kami, uang yang kami miliki malam itu hanya cukup membayar dokter dan menembus resep, sedangkan untuk ronsen lengkap dan sebagainya terpaksa kami tunda dulu. Apalagi rencana dokter itu untuk melakukan tindakan ESWL atau oprasi, kami belum bisa menyanggupi total angka puluhan juta rupiah itu.
Di rumah, istri saya bilang, ayah harus berobat dan teruslah berobat sampai sembuh. Janji ayah membeli baju koko dan sarung baru untuk anak-anak shalat taraweh tunda saja dulu, baju lebaran dan kuae-kue gak usaha dipikirkan, lagi pula lebaran masih lama. Yang penting sekarang ayah harus sehat seperti dulu lagi. Ooh...Tuhan, tanpa terasa air mata ini menetes ke pipi, sesuatu yang amat jarang bahkan belum pernah terjadi sejak saya dewasa, begitu pula merasakan dirawat dan diinfus di rumah sakit, seumur hidup baru inilah saya alami. Jangankan polis kesehatan asuransi atau tabungan puluhan juta rupiah, harta yang pantas untuk dijualpun kami tidak punya selain rumah tipe 36 yang sudah 12 tahun kami huni. Mobil kantor tidak mungkin bisa dijual, apalagi sepeda motor yang belum selesai masa kreditnya. Pensiun sebagai wartawan dengan masa kerja 20 tahun, tidak membuat saya memiliki tabungan dan harta yang banyak. Tetapi saya puas dan bangga dengan ketiadaan ini karena tidak ada yang tersakiti oleh saya hingga profesi mulia itu saya tinggalkan sejal lima tahun silam.
Saat menulis di blog ini, saya hanya berdoa dan terus berharap adanya keajaiban dan mukjizat dari Allah SWT yang dengan cara apapun bisa menyembuhkan penyakit di tubuh ini. Rasa perih dan sulitnya buang air kecil masih terus saya rasakan. Saya kian gundah setelah dokter urologi di MMC bilang bahwa batu ginjal saya sebenarnya belum di kantong kemih tetapi masih berada di ginjal sebelah kiri. Jadi masih perlu perawatan insentif dan sungguh-sungguh. Saya mengerti betapa buruk efeknya bila saya tidak segera mengambil tindakan. Tetapi apa yang bisa saya lakukan? Jangankan untuk bekerja keras mencari tambahan penghasilan, membawa mobil ke kantor saja terkadang saya harus berkeringat dingin menahan sakit. Bila membawa beban berat, maka air kemih saya akan kemerahan seperti air putih bercampur darah.
Adakah diantara pembaca yang memiliki saran terbaik buat saya? Mungkin ada resep herbal yang amat mujarap yang pernah Anda ketahui dari orang lain. Saya tunggu kebaikan hati Anda di halaman ini, Terima kasih tiada terbalas dari saya. Semoga Anda tidak akan pernah mengalami penyakit seperti saya.Wassalam!
Akibat rasa sakit yang luar biasa itu, akhirnya saya digotong ke tempat praktek dokter Topan di Pasar Muarabungo. Betapa terkejutnya saya saat hasil USG dokter spesialis penyakit dalam tersebut menyebutkan bahwa ada batu di ginjal saya sebesar biji kacang tanah. Kata dokter itu, posisi batu sudah berada di kantong kemih, dan itulah sebabnya kenapa saya merasakan sakit yang luar biasa akibat makan jengkol dan saus martabak india tadi yang mengandung cuka dan cabe rawit. Inilah pemicu sehingga saya akhirnya dirawat selama tiga malam di RSUD Hanafie Muarabungo.
Keesokkan harinya saya dironsen dan ternyata memang ada bulatan putih sebesar biji kacang tanah di sekitar kantong keming bagian bawah, sepertinya tidak jauh dari saluran kemih. Betapa ngerinya saya dan sangat tidak bisa terlukiskan betapa sakitnya tatkala nanti batu itu berangsur ke luar melalui saluran kemih saya yang diamaternya sangat tidak sebanding dengan ukuran batu keparat tersebut. Saya benar-benar merasa terpukul oleh penyakit ini, apalagi saat merasakan saya semakin sulit kencing dan selalu mengandung darah dalam cairan kemih saya. Oh...Tuhan, saya merasa hidup ini sudah tidak berapa lama lagi akan berakhir saat saya membayangkan betapa menderitanya seseorang yang mengalami kerusakan ginjal alias gagal ginjal.
Barulah setelah istri dan anak-anak saya jauh-jauh datang dari Kota Jambi, perasaan saya sedikit terhibur. Melihat wajah orang-orang yang saya cintai itu membuat saya mulai kuat lagi untuk terus bertahan dan senantiasa berpura-pura tidak sakit dihadapan mereka. Sesunggunya saat saya mau menginjakkan kaki ke lantai untuk menuju kamar mandi saja rasanya sudah tidak kuat lagi tubuh ini untuk berdiri, tetapi saya paksakan terus dan selalu berusaha untuk tersenyum di hadapan wajah-wajah yang penuh dengan kecemasan itu. Tiga hari dirawat seadanya, saya tidak merasakan perubahan yang berarti kecuali rasa sakit di perut dan pinggang mulai berkurang. Sementara batu tersebut masih bersarang dalam perut saya.
Akhirnya saya dan keluarga memutuskan untuk kembali ke Kota Jambi. Selama enam jam pernjalanan darat, sungguh bukan sesuatu yang amat menyenangkan bagi seorang penderita batu ginjal seperti saya.Tetapi saya berusaha untuk senantiasa terlihat tegar dan kuat di mata keluarga. Laki-laki tidak boleh cengeng, itulah yang selalu saya ajarkan kepada anak-anak saya. Di rumah, keceriaan selalu saya upayakan dengan cara mengajak anak-anak bercanda seperti biasa. Tetapi istri saya tahu bahwa sesungguhnya jiwa dan bathin saya menderita. Kami tahu bahwa ini adalah penyakit serius dan butuh biaya yang tidak sedikit untuk mengobatinya. Tiga hari kemudian, tepatnya malam pertama bulan suci Ramadhan 1433 Hijriah, saya dan istri memberanikan diri ke tempat praktek spesialis urologi di Mayang Medical Center (MMC), satu-satunya ahli urologi di Jambi. Sejujurnya, kami tidak mempunyai cukup uang, apalagi saya hanya bekerja di sebuah perusahaan kecil yang saat ini belum memiliki banyak proyek. Ternyata benar dugaan kami, uang yang kami miliki malam itu hanya cukup membayar dokter dan menembus resep, sedangkan untuk ronsen lengkap dan sebagainya terpaksa kami tunda dulu. Apalagi rencana dokter itu untuk melakukan tindakan ESWL atau oprasi, kami belum bisa menyanggupi total angka puluhan juta rupiah itu.
Di rumah, istri saya bilang, ayah harus berobat dan teruslah berobat sampai sembuh. Janji ayah membeli baju koko dan sarung baru untuk anak-anak shalat taraweh tunda saja dulu, baju lebaran dan kuae-kue gak usaha dipikirkan, lagi pula lebaran masih lama. Yang penting sekarang ayah harus sehat seperti dulu lagi. Ooh...Tuhan, tanpa terasa air mata ini menetes ke pipi, sesuatu yang amat jarang bahkan belum pernah terjadi sejak saya dewasa, begitu pula merasakan dirawat dan diinfus di rumah sakit, seumur hidup baru inilah saya alami. Jangankan polis kesehatan asuransi atau tabungan puluhan juta rupiah, harta yang pantas untuk dijualpun kami tidak punya selain rumah tipe 36 yang sudah 12 tahun kami huni. Mobil kantor tidak mungkin bisa dijual, apalagi sepeda motor yang belum selesai masa kreditnya. Pensiun sebagai wartawan dengan masa kerja 20 tahun, tidak membuat saya memiliki tabungan dan harta yang banyak. Tetapi saya puas dan bangga dengan ketiadaan ini karena tidak ada yang tersakiti oleh saya hingga profesi mulia itu saya tinggalkan sejal lima tahun silam.
Saat menulis di blog ini, saya hanya berdoa dan terus berharap adanya keajaiban dan mukjizat dari Allah SWT yang dengan cara apapun bisa menyembuhkan penyakit di tubuh ini. Rasa perih dan sulitnya buang air kecil masih terus saya rasakan. Saya kian gundah setelah dokter urologi di MMC bilang bahwa batu ginjal saya sebenarnya belum di kantong kemih tetapi masih berada di ginjal sebelah kiri. Jadi masih perlu perawatan insentif dan sungguh-sungguh. Saya mengerti betapa buruk efeknya bila saya tidak segera mengambil tindakan. Tetapi apa yang bisa saya lakukan? Jangankan untuk bekerja keras mencari tambahan penghasilan, membawa mobil ke kantor saja terkadang saya harus berkeringat dingin menahan sakit. Bila membawa beban berat, maka air kemih saya akan kemerahan seperti air putih bercampur darah.
Adakah diantara pembaca yang memiliki saran terbaik buat saya? Mungkin ada resep herbal yang amat mujarap yang pernah Anda ketahui dari orang lain. Saya tunggu kebaikan hati Anda di halaman ini, Terima kasih tiada terbalas dari saya. Semoga Anda tidak akan pernah mengalami penyakit seperti saya.Wassalam!
Senin, 19 Maret 2012
Ekpedisi Geologi Sumay-Nalotantan
Bertualang ke hutan bukanlah pekerjaan mudah. Selain persiapan mental dan kekuatan fisik, juga harus memiliki peralatan navigasi yang cukup, dan saya hanya bermodalkan nekat.
Bila dua bulan lalu saya ikut bertulang ke pedalaman hutan Sumay di Kabupaten Tebo, kali ini, pertengahan Maret, saya kembali nekad mengikuti Coal Expedition Nalotantan bersama Bapak Cecep S Hidayat, seorang ahli geologi dari LAPI ITB Bandung. Bagi saya, lebih tepat menyebutnya dengan Geo Wisata Nalotantan.
Sebelum saya berkisah tentang ekspedisi Nalotantan, saya ingin sedikit menceritakan Coal Expedition Sumay. Sebetulnya, ke pedalaman Sumay tidak ada yang istimewa. Kawasan ini sesungguhnya tidak ada lagi hutan. Yang ada adalah hamparan puluhan ribu hektare perkebunan sawit dan Hutan Tanaman Industri milik "raja HTI" Sinarmas Group.
Pemadangan ini justru membuat saya sedih manakala menyaksikan masyarakat sekitar kesulitan mencari lahan untuk berkebun. Selain rata oleh perkebunan swasta, penetapan tapal batas kawasan Hutan Produksi (HP) oleh Pemerintah sudah sampai ke belakang dapur dan pemakaman umum.
Konflik antara masyarakat dengan perusahaan dan perambah liar yang datang dari luar Jambi sudah lama berlangsung di Tebo. Pertikaian hebat pecah dua bulan lalu antara perambah liar (penduduk setempat menyebutnya dengan istilah pendatang haram) dengan PT Lestari Asri Jaya. Tidak sedikit yang terluka bahkan ada yang tewas pada pertikaian itu.
Persoalan tumpang tindih perizinan, bukan hal aneh di Tebo. Dari 62 izin eksplorasi tambang batubara, mayoritas berada di kawasan hutan HP. Bahkan ada yang masuk kawasan HTI dan HPL yang sudah dikeluarkan izin perkebunan. Inilah faktor utama kenapa hanya empat buah saja pemilik tambang di Tebo yang produksi. Selebihnya masih "terperangkap" dalam kemelut tumpangtindih perizinan serta kesulitan mendapatkan izin pinjam pakai hutan HP. Padahal potensi kandungan batubara di daerah ini sangat besar, lebih dari cukup membuat Tebo kaya.
Menurut saya, perjalanan ke belantara Nalotantan Kabupaten Merangin jauh lebih menarik dan penuh tantangan. Sebagai pemandu tim geologi, saya benar-benar ingin menikmati petualangan ini. Menurut data, potensi kandungan batubara di Merangin memang minim dibanding Kabupaten Bungo, Tebo, Tanjab Barat, Sarolangun, Batanghari dan Muaro Jambi.
Sungguhpun begitu, Merangin termasuk penghasil tambang biji besi terbesar di Jambi. Kawasan ini terletak di bagian utara Merangin, merupakan bagian dari lereng Bukitbarisan. Namun izin usaha pertambangan yang ada semuanya berada dalam kawasan hutan penggunaan lain (HPL). Kondisi ini amat jauh berbeda dengan Kabupaten Tebo yang izin tambangnya berada di kawasan hutan HP.
Kami mulai melakukan kegiatan survei pada Sabtu 10 Maret 2012 lalu. Setelah sarapan pagi di sebuah rumah makan dan menyiapkan bekal makan di hutan, kami segera memulai perjalanan pada jam 9 pagi. Tim dibagi dua regu. Regu pertama masuk dari arah utara melalui Desa Danau dan lebih dulu meniti jembatan gantung yang sudah mulai rapuh. Tim ini dipimpin Zainul serta seorang ahli geologi dan beberapa kru penunjuk jalan dari desa setempat.
Sedangkan saya mengikuti regu kedua yang dipimpin Pak Cecep. Tim ini akan menyisir kawasan selatan Nalotantan yang berbatasan dengan hutan Sungaimanau. Jujur, sebenarnya saya amat takut menyertai regu kedua ini. Selain medan yang akan ditempuh cukup berat, di kawasan ini diperkirakan masih banyak binatang buas seperti harimau. Buktinya, dua bulan lalu, seorang penyadap karet tewas hingga kepalanya terpisah dari badan setelah dimangsa habis kawanan raja hutan Sumatera tersebut.
Setelah satu jam perjalanan dari Desa Danau, mobil dua kabin 4x4 yang kami gunakan sampai ke Desa Nalobaru. Di sini kami menjemput Darwis, seorang guide yang sangat hapal dengan hutan sekitar itu. Perjalanan dengan mobil akhirnya terhenti setelah kami menemukan jembatan patah. Satu jam kami memperbaiki jembatan darurat tersebut, baru perjalanan bisa dilanjutkan.
Hanya lebih kurang 300 meter kami meninggalkan jembatan tadi, perjalanan dengan mobil tidak bisa dilanjutkan lagi. Ada sungai kecil tapi cukup curam dan memaksa mobil harus parkir di situ. Berjalan kaki, itulah yang harus kami lakukan untuk bisa mencapai lokasi titik singkapan batubara yang pernah ditemukan penduduk seperti Darwis.
Tanjakan terjal membuat nafas kami amat tersengal hingga ke puncak bukit. Awalnya kami masih menemukan kebun karet tua milik penduduk. Lama kelamaan pohon karet tidak ditemukan lagi. Kami mulai masuk kawasan hutan belukar yang lumayan lebat dan dingin. Tiba-tiba kami dikejutkan dengan suara gemuruh burung gagak hitam dari sebuah pohon besar. Mungkin kawanan itu terkejut dengan kedatangan kami.
Namun hati ini berkata lain, seolah ada isyarat yang kurang baik. Mulutpun terus komat-kamit membaca doa. Sekali lagi, jujur, saya amat takut dan bulu kuduk terus merinding. Karena saya amat menyukai suara burung, maka kicauan aneka burung di hutan itu sedikit membuat saya terhibur dan melupakan rasa takut. Pak Cecep, geolog yang separuh hidupnya berada di hutan Kalimantan, Sulawesi dan Sumatera, terus mengamati peralatan navigasi dan mencatatnya.
Darwis, yang bergerak lincah bagaikan seorang Tarzan, membuat kami cukup kewalahan mengikutinya. Akhirnya dia menemukan sungai kecil dan memberi tahu kami ada singkapan batubara di dasar sungai tersebut. Setelah mengamati, mencatat dan mengambil contoh untuk dibawa, kami segera bergerak mengikuti langkah Darwis. Pria berusia 30-an tahu ini bercerita, sebenarnya yang menemukan pertama kali ada potensi batubara di hutan itu adalah Arifin yang kini sudah berusia 70 tahun.
Arifin yang tak lain adalah orangtua Darwis, saat itu berusia sekitar 25 tahun dan gemar berburu kancil dan rusa. "Tiap kali menemukan benda aneh ini ayah selalu bercerita pada ibu hingga saya dewasa kerap diajaknya ke hutan," kisah Darwis sambil menimang-nimang bongkahan benda hitam itu di tangannya. Pemuda berbadan tegap itu sangat berharap penambangan segera dilakukan karena ia dan teman-temannya di kampung ingin sekali lepas dari pengangguran.
Kami berhenti sebentar melepas penat sambil makan nasi bungkus yang kami bawa dari kota Bangko tadi pagi. Sesekali kami terdiam dan prihatin mendengar kisah hidup Darwis dan kawan-kawannya yang kerja serabutan sambil mencari rotan di hutan. Perjalanan ke titik-titik singkapan berikutnya terus kami lakukan walau kaki ini amat letih. Kerap saya tertinggal di belakang dan langsung menjerit minta tunggu bila rombongan tidak tampak lagi oleh lebatnya hutan.
Akhirnya kami sampai ke titik singkapan terakhir setelah menyeberangi sungai kecil. Sebelumnya kami sempat menemukan sebuah perangkap menyerupai kandang terbuat dari kayu yang cukup kokoh. Kuat dugaan, itu adalah perangkap harimau yang dibuat oleh pemburu liar. Kami juga menemukan jerat-jerat kecil yang dibuat dari sebatang kayu kecil dan tali nilon. "Itu jerat landak dan kancil," kata Bobo, teman Darwis.
Hari sudah mulai gelap walau jam ditangan baru menunjukkan jam empat petang. Kami mempercepat langkah untuk segera kembali ke tempat di mana mobil dan sopir menunggu. Tanpa terasa sudah lima kilometer lebih kami mengintari hutan Nalotantan dengan berjalan kaki. Kami berhenti sejenak melihat tiga potong batu menyerupai kayu log sebesar drum. Rupanya itu adalah posil kayu sungkai yang sudah menjadi batu.
Kamipun duduk santai di atas posil kayu berwarna hitam itu sambil bergantian memotretnya dengan kamera saya. Tiba-tiba saya baru merasakan perih di kaki hingga betis. Rupanya puluhan ekor binatang bernama pacet sudah bunting menghisap darah di kaki saya. Kejadian itu juga menimpa teman-teman yang lain. Setidaknya, hari itu kami sudah donor darah untuk pacet hutan Nalotantan.
Kamipun mendapat berita dari pesan SMS, rupanya regu pertama yang masuk dari arah utara sudah kembali ke hotel. Mereka terpaksa menghentikan kegiatan survei karena mendapat pengusiran dari beberapa warga setempat. Ternyata, sebelum tim ekspedisi ini datang, sudah tersiar cerita bahwa masyarakat pemilik kebun akan mendapatkan biaya konvensasi jutaan rupiah bagi kebunnya yang terkena survei.
"Itu informasi yang keliru, dan tidak mungkin tim geologi memiliki sumber dana untuk hal seperti itu. Kami ini tim peneliti, bukan pengusaha tambang," ungkap Pak Cecep dengan nada kecewa. Pakar geologi ini pun akhirnya menjelaskan, kejadian seperti ini baru pertama kali dialaminya. "Kalau di tempat lain malah masyarakatnya merasa senang lahannya disurvei karena baginya bisa memberi harapan yang besar pada masa yang akan datang," ujarnya.
Untung kesalahpahaman itu bisa diselesaikan oleh kepala desa setempat. Kegiatan survei dapat dilakukan kembali esok hari.
Di hotel kami banyak berdiskusi dengan geolog yang juga berprofesi sebagai dosen ini. Menurutnya, di Merangin potensi kandungan batubara amat sedikit. Rata-rata hanya dengan ketebalan dua hingga tiga meter dengan luas pormasi hanya beberapa ratus meter saja.
Tentu saja hal ini kurang ekonomis. Apalagi dengan jauhnya lokasi tambang dan dermaga. Belum lagi persoalan carut-marutnya kebijakan pemerintah daerah soal jalan. Rencana pengerukan Sungai Batanghari atau pembangunan jalan alternatif entah kapan akan terwujud. Wajar saja bila masyarakat Jambi saat ini berpendapat, tambang batubara lebih banyak mudarat daripada manfaatnya. ***
(Naskah ini sudah dimuat di halaman 1 Harian Tribun Jambi edisi Senin 19 Maret 2012)
Sabtu, 10 Maret 2012
SENTILAN BANG DORI (1)
"Absen menjadi wartawan bisa aku lakukan walau tidak tahu sampai kapan. Tetapi absen menulis serasa sulit karena menulis bagiku bagai mendengar alunan musik..mengalir ke dalam jiwa..sampai jauh.."
Itulah sebait kalimat yang saya tulis di profil akun facebook sejak absen sebagai jurnalis beberapa tahun silam. Hari ini kegelisahan itu menyeruak. Saya tak kuasa menahannya. Puluhan tahun mendapat nafkah dari merangkai kata reportase hingga cerpen dan puisi. Terima kasih kepada redaksi koran ini, memberi ruang untuk saya berapresiasi, merangkai kata yang mungkin membuat pembaca tersinggung. Maafkan saya.
Hari ini. Seketika rasa bangga saya terhadap Tebo sebagai "kota sejarah" --yang berkonotasi menyimpan kekayaan historis, bersih, indah dan nyaman--menjadi sirna saat melihat kotoran sapi di mana-mana. Seolah, kota kecil ini menjadi WC umumnya para sapi, kerbau dan kambing.
Saya tidak mengerti, kenapa semua orang menjadi acuh. Apakah para binatang itu yang harus lebih dulu diberi pendidikan etika misalnya, baru kemudian sanksi bisa ditegakkan? Atau kita yang tidak beretika lantaran sudah terbiasa menyaksikan sapi buang hajat dan orgasme melototi bokong seksinya? Ah..ini yang membuat saya masgul.
Kini saya sedang bermimpi. Sebentar lagi kotaTebo siap berdandan. Jalan dua jalur yang mulus, lampu taman yang unik, trotoar dan selokan yang rapi, pohon pelindung dan tanaman hias di mana-mana. Turap Tanggo Rajo menjadi tempat bersantai yang indah. Gemerlap lampu malam yang memantul ke Sungai Batanghari, menandakan; masyarakat Tebo memiliki jiwa estetika yang tinggi. Dalam mimpi saya, kian banyak yang sadar--kebersihan kota adalah cermin keimanan.
Menurut saya, Pemkab Tebo harus tegas. Ternak yang berkeliaran cepat ditangkap. Bila tidak ada pemiliknya yang bertanggungjawab, boleh diberikan kepada desa lain yang lebih membutuhkan. Atau disembelih dan dagingnya untuk fakir miskin agar anak-anak mereka bergizi. Tentu harus punya dasar hukum yang jelas serta mentalitas petugas yang kuat. Saya sangat tidak yakin kita telah kehabisan solusi untuk mengatasi hal ini.
Saya bukan menggurui. Menjiwai etika dan estetika menjadi wajib tatkala kita sepakat ingin wajah Tebo berubah. Bersyukurlah, Tebo tidak berdiri di atas tanah tandus dan kosong. Tebo ada setelah para pejuang menulis riwayat hidupnya dengan darah dan air mata. Makam Pahlawan Nasional Sultan Thaha Syaifuddin menjadi saksi bisu dalam babad sejarah keberadaan Tebo yang kini telah menjadi kabupaten. Sungguh, kita tidak punya etika sedikitpun bila ceceran darah, nyawa dan air mata mereka kita balas dengan onggokan kotoran sapi di mana-mana--hingga ke makam sang pahlawan.
Tebo harus bangkit menggapai perubahan. Tebo tidak boleh santai, tidak boleh lelet dan harus bekerja keras bila ingin mengejar ketertinggalannya. Tidak ada yang sulit bila memiliki kemauan yang kuat. Kecuali estetika warga Tebo yang rendah dan lebih suka bergunjing ketimbang memperindah lingkungannya. Salam perubahan!
(naskah ini sudah dimuat Radar Tebo edisi Senin, 27 Maret 2012)
SENTILAN BANG DORI (2)
Apa saja sih kekayaan alam Tebo? tanya seorang pengusaha sukses kepada saya di Jakarta belum lama ini. Langsung saya jawab begini, apa saja ada; lahan yang luas, batubara, minyak bumi dan sejumlah kekayaan alam lainnya. Kami juga punya taman nasional, beberapa air terjun, danau dan sejumlah objek wisata alam serta beraneka flora dan fauna, jawab saya dengan bangga.
Wah..hebat dong. Lantas, kenapa penduduknya masih miskin, kenapa Tebo tidak pernah mencuat prestasinya ke kancah nasional? tanyanya lagi kepada saya. Sejenak saya terdiam. Dalam hati saya, orang ini pasti banyak tahu soal Tebo. Belum sempat saya menjawab lagi, sang milioner ini langsung nyerocos sambil menatap tajam. Anda tahu kan? Kekayaan alam itu anugerah Tuhan yang tidak bisa diciptakan oleh manusia. Anugerah itulah yang harus dikelola untuk kemakmuran umat.
Ibarat sebuah produk industri, semua kekayaan alam itu harus laku. Agar laku, kita harus punya tenaga marketing yang hebat, sistem manajemen yang profesional dan terukur. Bersyukurlah kepada Tuhan, daerah Anda memiliki kekayaan alam yang melimpah. Pesan saya, kata pria yang kerab nongol di televisi ini, jangan sampai seperti tikus mati di lumbung padi. Bukan mati kekenyangan tetapi mati kelaparan karena tidak tahu bagaimana menjadikan padi itu menjadi beras lalu ditanak menjadi nasi. Ia pun tertawa, dan saya tersenyum kecut.
Di akhir pembicaraan dia bilang begini, kalau daerah Anda mau maju harus bisa mengundang kedatangan banyak orang. Keragaman dunia usaha dan investasi harus terus ditumbuhkembangkan, dan jangan ada yang memonopoli. Daerah tidak akan bisa mengelola potensinya sendiri tanpa campur tangan swasta. Tetapi harus ada regulasi dan kebijakan yang jelas; tidak membuat pengusaha menjadi ragu, kapok, lalu pergi tanpa jadi berinvestasi.
Dalam dua pekan terakhir ini, hampir tiap hari saya mendapat email dari Tung Desem Waringin. The most powerful people and ideas, itu sangat populer dengan sebutan TDW. Dalam salah satu surat sang motivator keturunan china itu mengatakan, banyak orang gagal menuju sukses lantaran hal sepele--tidak mau mengaktualisasikan potensi dirinya dan hanya disibukkan dengan hal yang tidak penting. Padahal, kata TDW, tiap orang sudah diberi anugerah yang luar biasa. Orang yang cacat fisikpun masih bisa sukses.
Ungkapan TDW itu mengingatkan saya akan seorang artis Daus Mini. Dengan keterbatasan fisiknya yang mungil, ia justru berhasil mendapatkan seorang istri yang tinggi dan cantik. Kini mereka telah dikaruniai seorang anak yang sehat. Semua karena kemampuan mengaktualisasikan potensi dirinya hingga iapun sukses secara finansial. Lalu saya teringat lagi dengan Suparwono. Manusia tertinggi nomor tiga di dunia asal Tulangbawang, itu sempat dijadikan ikon wisata Lampung dan terus ngetop oleh liputan media. Tetapi ia belum bisa beranjak dari gubuk sederhana milik orang tuanya, hingga ajal menjemputnya.
Saya hanya ingin mengatakan, Tebo yang kaya sumber daya alam, seharusnya sudah menikmati pertumbuhan ekonomi yang terus meningkat. Usia muda--baru dua belas tahun--sangatlah klasik dan kemunduran pola pikir bila itu yang menjadi alasan. Kalau kita bisa menggapai kemajuan itu dengan cepat, kenapa harus menunggu setelah tua? Rakyat Tebo sudah capek hidup serba terbatas. Mungkin benar apa yang dikatakan Jusuf Kalla; lebih cepat !! (naskah ini sudah dimuat di harian Radar Tebo, Senin 5 Maret 2012)
Langganan:
Postingan (Atom)