Sabtu, 10 Maret 2012

Tim ekspedisi takut harimau (1)

Hari ini, Sabtu 10 Mei 2012, adalah hari kedua kami melakukan survei ke lokasi kuasa pertambangan batubara di kabupaten merangin, Jambi. Kegiatan ini kami sebut dengan coal expedition nalotantan. Nalotantan adalah nama kecamatan dan sebahagian besar terdiri kawasan hutan belukar dan perkebunan rakyat. Sebenarnya lokasi yang akan disurvei juga meliputi sebagian kecil wilayah yang masuk dalam kecamatan Batangmasumai. Kami mulai menuju lokasi jam 9 setelah sarapan pagi di rumah makan dendeng batokok. Sambil menunggu pelayan menyiapkan 20 bungkus nasi berikut rendang, kamipun sarapan dengan lahap. Maklum, fisik harus kuat karena info yang kami dapat, medan hutan yang akan ditempuh lumayan berat dan terjal. Hampir sebahagian besar wilayah kabupaten Merangin bertopografi berbukit karena hampir mendekati kawasan bukit barisan dan taman nasional Kerinci seblat. Setelah sampai di desa danau, rombongan mulai terpisah. Regu pertama dipimpin Pak Zainul dengan satu orang tenaga geologi dari Bandung. Tugas mereka menyisir kawasan selatan, dengan lebih dulu meniti jembatan gantung sekitar 25 meter. Jembatan ini sudah cukup tua dan harus waspada. Regu kedua terdiri dari saya sendiri, Hendra, Cecep geologi dari Bandung dan dua orang penunjuk jalan dari desa sekitar. Jujur, saya amat takut mengikuti rute regu kedua ini. Beberapa minggu sebelum kami datang, penduduk setempat dihebohkan dengan peristiwa terbunuhnya seorang petani oleh dua ekor harimau Sumatera. Saat ditemukan, tubuhnya sudah habis dilahap hewan buas tersebut dan kepalanya sudah terpisah dari badan. Hinggap kini kawanan hewan yang dilindungi itu belum berhasil ditangkap. Berbekal keyakinan, akhirnya kami sampai di desa nalobaru dan tidak berapa lama masuk ke kawasan hutan karet tua. Lama kelamaan kebun karet tidak tampak lagi dan berganti kawasan hutan yang lumayan lebat. Selain jalan berlumpur, mendannya cukup terjal. Mobil dobel kabin yang kami pakai terpaksa berhenti karena jembatan darurat dari kayu yang ada sudah patah. Hampir satu jam kami memperbaikinya dan perjalanan bisa dilanjutkan kembali. Tetapi hanya tiga kilometer, kami terpaksa harus berjalan kaki lantaran mbol tidak bisa melewati sungai yang cukup lebar dan curam. Belum lagi reda rasa pegal dan nafasnya tersengal berat setelah mendaki bukit terjal, tiba-tiba kami dikagetkan oleh suara segerombolon burung gagak hitam dari sebuah pohon besar. Mungkin kawanan unggas langka itu terkejut dengan kedatangan kami. Tapi dalam hati ini ada rada kurang enak. Seolah ada semacam isyarat alam yang kurang baik...(bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar